Sabtu, 19 Maret 2022

Berkunjung ke Kota Tegal: Kuliner, Pantai, sampai Wisata Guci


Berawal dari rasa penasaran dengan kenikmatan sate Tegal yang sering didengung-dengungkan teman kantor, saya pun tertantang untuk melakukan perjalanan singkat ke kota Tegal. Ditambah lagi dengan harga tiket kereta yang sangat terjangkau dan waktu tempuh yang cukup singkat.

Minggu lalu, atas izin pimpinan divisi, untuk kali pertama saya memberanikan diri menuruti jiwa travelling yang sudah lama pingsan karena dihantam kehebohan pandemi. Meski saat ini pandemi belum juga berakhir, setidaknya beberapa upaya pencegahan penularan Covid-19 telah diupayakan, seperti menggunakan masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan sabun atau menggunakan hand sanitizer. Selain itu, juga program vaksinasi dari pemerintah yang sudah cukup merata di beberapa kabupaten/kota di Indonesia, baik vaksin dosis 1 maupun dosis 2. Jika tidak punya penyakit komorbid, telah vaksin lengkap, dan dalam kondisi sehat, saya pikir kita bisa pergi kemanapun ke tempat tujuan yang ingin kita kunjungi.

Short trip saya ke Tegal minggu lalu merupakan perjalanan berkereta pertama yang bebas dari syarat perjalanan berupa hasil rapid test antigen/RT-PCR, asalkan telah vaksin lengkap atau booster. Hal tersebut sesuai dengan Surat Edaran Kementerian Perhubungan No. 25 Tahun 2002 yang mulai berlaku pada 9 Maret 2022.

Saya berangkat dari Stasiun Pasar Senen menuju Stasiun Tegal dengan kereta Airlangga, kereta jurusan Jakarta (Pasar Senen) dan berakhir di Surabaya (Pasar Turi). Berangkat pukul 11.10 WIB dan sampai di Tegal sesuai jadwal pukul 15.59 WIB. Harga tiket kereta Airlangga ini sangatlah terjangkau. Dari Jakarta ke Tegal, saya hanya mengeluarkan cuan sebesar Rp49.000,00.

Saya sampai di stasiun kira-kira 30 menit sebelum keberangkatan. Kereta Airlangga ini masuk dari jalur 3. Sesuai yang tercantum di e-ticket, saya akan duduk di kursi 13E gerbong 6. Begitu kereta memasuki jalur 3, para penumpang mulai sibuk bergegas dari ruang tunggu kereta menuju gerbong yang sudah dipilihnya. Tak terkecuali dengan saya. Namun, saya baru masuk kereta sekitar 10 menit sebelum keberangkatan dengan tujuan untuk menghindari kerumunan dan desakan para penumpang.

Setelah menempuh perjalanan hampir 5 jam, akhirnya kereta Airlangga sampai juga di stasiun Tegal. Bergegas saya beranjak dari kursi menuju pintu keluar sebelah kiri dari arah datangnya kereta. Disana, beberapa penumpang juga mengantre untuk turun dari kereta. Setelah turun dari kereta, saya langsung memesan ojek online untuk menuju ke penginapan.

Saya memilih penginapan yang tidak jauh dari stasiun Tegal, yaitu sekitar 1,7 km dengan waktu tempuh sekitar 7 menit dengan naik motor. Penginapan tersebut bernama “Halmahera Kostel”. Penginapan tersebut saya pilih melalui traveloka karena hasil reviu yang cukup memuaskan. Tempatnya pun sangat strategis, selain berada di kota Tegal, juga dekat dengan pantai dan jalan pantura.

Sesampai di penginapan, saya disambut oleh Adek yang berangkat dari Semarang. Adek saya sudah sampai lebih dulu karena jarak tempuh Semarang-Tegal yang lebih dekat daripada Jakarta-Tegal. Setelah bersih bersih dan menjamak qashar sholat ashar dan sholat dzuhur, saya dan Adik bergegas menuju Pantai Alam Indah. Kami hanya cukup berjalan kaki selama 15 menit dari penginapan menuju pantai. Meski cuaca mendung, tapi tetap saja keindahan pemandangan alam yang disuguhkan Tuhan tidak pernah luntur.

Pantai Alam Indah ini merupakan pantai yang terletak di utara jawa. Meski tidak sebening pantai yang berada di timur atau selatan Indonesia, desir ombak pantai tetap menyimpan kesyahduan tersendiri bagi wisatawan yang mengunjunginya. Buktinya mereka tidak ada yang melepas gawainya untuk tetap di tangan supaya bisa mengabadikan momen suasana pantai di sore hari. 

 


Tak terasa adzan maghrib pun berkumandang. Meski tidak bisa lama, setidaknya gemuruh pantai sore hari itu cukup untuk menggugah diri untuk melihat keindahan alam ciptaan Tuhan. Sebelum hari bertambah gelap, kami bersegera untuk meninggalkan area wisata untuk kembali ke penginapan.

Setelah sholat maghrib, saatnya kami berburu makan malam. Kali ini menu makan malam kami cukup special, menu khas kota Tegal, apalagi jika bukan sate kambing cempe. Dalam bahasa Jawa, cempe merupakan istilah untuk anak kambing. Jadi sate ini merupakan sate anakan kambing yang konon berusia antara 3 sampai dengan 6 bulan.

Setelah memilah memilih warung sate melalui media online, pilihan saya jatuh pada warung sate cempe lemu yang berlokasi di Jalan Ahmad Yani, kota Tegal. Pertimbangan saya memilih warung tersebut antara lain karena lokasinya cukup dekat dengan penginapan dan mempunyai rating cukup tinggi dari pengunjung.

Sesampainya disana, kami disambut oleh pelayan warung yang sangat ramah. Lantas kemudian kami disodorkan selembar daftar menu. Meskipun menu utamanya adalah sate, warung ini juga menyediakan olahan kambing lainnya seperti sup dan gulai. Disini, kami memesan 20 tusuk sate kambing dan minum teh poci. Cukup kaget dengan harga sate kambing yang tak biasa ini. Hehe. 20 tusuk sate tersebut seharga Rp98.000,00. Namun, tidak ada harga jika tidak ada rupa. Memang betul, rasa satenya mantap. Empuk sekali. Benar-benar baru kali itu saya makan sate terenak sepanjang hidup. Hehe.

Perut kenyang, hati pun senang. Saking kenyangnya, kami memutuskan kembali ke penginapan dengan berjalan kaki. Dengan harapan nanti sesampai di penginapan kami bisa tidur nyenyak karena perut kenyang dan badan terasa capek. 


 

 

 

Di hari Minggu pagi, kami beranjak menuju tempat persewaan motor untuk selanjutnya menyusuri objek wisata guci. Objek wisata guci ini merupakan objek wisata yang berada di kaki gunung slamet. Jarak tempuh kota Tegal ke objek wisata guci kurang lebih selama 1 jam 15 menit menggunakan motor. Destinasi populer wisata guci ini adalah pemandian air panas. Namun, karena kami tidak berencana, lebih tepatnya tidak tertarik dengan pemandian air panas, kami hanya menikmati suasana alam pegunungan dan singgah sebentar ke curug. Setelah puas menikmati segarnya air curug, kami bergegas pulang kembali ke kota karena hari sudah mulai mendung.

Dari kaki gunung slamet, kami pulang melalui slawi terlebih dahulu untuk menikmati segarnya es lontrong. Es lontrong ini merupakan minuman khas Slawi. Es ini berisi kacang hijau, potongan agar berbentuk balok, santan, dan es serut sebagai topingnya. Harganya pun sangat terjangkau, hanya Rp5.000,00/gelas.

Setelah mampir minum es, kami melanjutkan perjalanan ke kota Tegal dengan waktu tempuh sekitar 30 menit. Di kota Tegal, kami langsung menuju Masjid Agung Tegal untuk menunaikan sholat dzuhur sekaligus ashar.

Alhamdulillah, perjalanan kami 2 hari di kota Tegal-Kabupaten Tegal-Slawi diakhiri di Masjid Agung Tegal. Kesan saya terhadap kota Tegal cukup bagus. Setiap orang yang saya temui semuanya ramah, baik, dan helpful. Perjalanan kami juga cukup menyenangkan. Dan tak terasa kami pun harus kembali ke kota masing-masing. Saya kembali ke Jakarta dan Adik kembali ke Semarang.  


 


 

1 komentar: