Sabtu, 19 Februari 2022

Memantik Senyum Pemulung dengan Sebungkus Nasi Rames

 

Islam adalah agama yang rohmah. Banyak jalan menuju ridho illahi, diantaranya melalui kebaikan. Kebaikan pun punya banyak macam rupa. Dan salah satu bentuk kebaikan yang paling sederhana adalah tersenyum. 

 

Seminggu yang lalu, saya dengan teman satu kos bernama Lola akhirnya merealisasikan rencana yang telah lama kami wacanakan, yaitu berbagi sarapan. Kegiatan berbagi sarapan tersebut terinspirasi dari kegiatan sosial yang diselenggarakan oleh Yayasan Visi Maha Karya. Pada tahun lalu, saya sempat mengikuti kegiatan berbagi sarapan dengan para relawan Yayasan Visi Maha Karya dengan lokasi pembagian di Jakarta Selatan. Namun, sayangnya saya hanya dapat mengikuti kegiatan tersebut sebanyak 2 (dua) kali karena dihantui oleh covid-19 varian delta yang sangat perlu diwaspadai saat itu. Akhirnya, saya pun memilih off dan belum tau kapan lagi dapat bergabung dengan kegiatan kerelawanan tersebut. Namun, meskipun saya off, saya mempunyai rencana untuk bisa melakukan kegiatan berbagi sarapan dengan orang terdekat, yakni tidak lain dengan teman kos. 

 

Di Jakarta, saya sangat bersyukur bisa tinggal dan bertemu dengan teman-teman yang baik. Bahkan, sebagian diantaranya sudah lebih dari teman, yaitu seperti keluarga dan saudara sendiri. Hampir setiap kegiatan yang saya usulkan, dapat diterima dengan baik oleh mereka. Bahkan, Bapak/Ibu penjaga kos juga sangat welcome dengan rencana-rencana anak kos, sepanjang kegiatan tersebut tidak mengganggu warga kos lainnya dan tidak merugikan pemilik kos. 


Berbagi sarapan. Kegiatan sederhana yang menjadi tidak sederhana karena disajikan dengan masakan sendiri ala saya dan Lola. Langkah pertama yang kami lakukan yaitu menghitung jumlah porsi nasi bungkus, menentukan menu, dan menentukan sasaran pembagian nasi bungkus yaitu kepada pemulung. Setelah semuanya ditentukan, barulah kami menentukan waktu eksekusi. 

 

Setelah menjalani isolasi mandiri pasca pulang kampung dan melakukan PCR dengan hasil negatif, di hari Sabtu pagi, saya dan Lola pergi ke pasar untuk membeli bahan masakan. Budget awal kami tidak besar, yaitu 100 ribu dengan iuran masing-masing 50 ribu, yang kira-kira cukup untuk 15 bungkus nasi. Adapun menu yang kami buat untuk nasi bungkus yaitu tempe orek, ayam goreng, dan mie goreng dengan beras sebanyak 7 cup kecil. 

 

Sesampai kos, setelah semua bahan terbeli, kami pun mulai membagi tahapan memasak menjadi 2 (dua) waktu, yaitu Sabtu malam dan Minggu pagi. Misalnya, untuk meng-ungkep ayam, mengupas bawang merah dan bawang putih, serta menggoreng tempe kami lakukan di malam hari. Untuk menanak nasi, membuat mie goreng, membuat tempe orek, dan menggoreng ayam kami lakukan di Minggu pagi. Karena judulnya adalah berbagi sarapan, kami mengupayakan seluruh nasi bungkus sudah mulai didistribusikan pada Minggu pagi jam 8. 

 

Dengan meminjam kendaraan motor milik teman kos, kami pun siap untuk mendistribusikan nasi bungkus. Untuk lokasi pendistribusian, kami mencoba menyisir jalan Sutan Syahrir (jika berkendara dari arah monas, dari bundaran HI kemudian belok kiri). Kami memilih jalan tersebut karena kami pernah mendapati banyak pemulung yang berada di jalan tersebut di malam hari. Kami mengira para pemulung di malam hari akan sebanyak di pagi hari. Nyatanya kami tidak menemukan satu pemulung pun di jalan Sutan Syahrir tersebut. Akhirnya, kami memutuskan untuk menyisir sekitar jalan yang sudah familiar kami lewati, yaitu Jalan Kesehatan daerah Petojo Selatan kemudian lurus terus sampai daerah Petojo Utara-Gambir-Jakarta Pusat. 


Setelah menoleh dan memicingkan mata ke kanan dan ke kiri, akhirnya kami pun menemukan satu per satu pemulung yang menjadi target sasaran. Diantaranya ada yang sedang menarik gerobak, ada yang sedang membereskan barang pungutan, dan lainnya sedang duduk bersantai di pinggir kali. Wajah mereka yang tak terawat dan tempat tinggal yang tidak menentu telah memberikan semangat kepada kami untuk meningkatkan syukur pada Yang Maha Kuasa. Namun, di samping itu, kami sangat bahagia dapat berbagi. Ada perasaan yang tidak dapat kami ungkapkan saat mereka menerima nasi bungkus kemudian tersenyum dan sembari mendoakan kami. Arrghhh… bisa berbagi saja kami sudah bahagia, apalagi juga mendapat doa kebaikan. Bahagianya semakin berlipat.

 

Senyuman mereka, para pemulung, telah menjadi kebaikan untuk mereka. Kami sama sama terlahir sebagai manusia. Perbedaan jenis kelamin, latar belakang, agama, dan lainnya tidak dapat memutuskan hubungan kami dalam konteks hubungan kemanusiaan. Karena sejatinya kita hidup salah satunya adalah untuk memanusiakan manusia, sebagai cipataan Allah yang terbaik di muka bumi. "Laqod Kholaqnal insaana fii ahsani taqwiim". 

0 komentar:

Posting Komentar