Menunggumu adalah melatihku untuk bersabar dan yakin bahwa suatu hari kita akan dipertemukan.
Dalam kesendirian, di saat hasratku sudah mulai liar, diam-diam aku bertanya pada diriku "Apakah benar aku sudah siap untuk hidup berdua menjalin hubungan dengan seseorang yang sebelumnya menjadi misteri?". Dan di saat itulah aku diam-diam berdoa dalam hati "Semoga aku denganmu kelak dipertemukan dalam keadaan yang saling siap, baik dari sisi ilmu, psikologis, dan finansial.
Memutuskan untuk "Iya, saya siap" bagiku adalah keputusan besar dalam hidup. Tidak boleh sembrono dan sembarangan. Ada visi dan misi besar yang akan dibawa pada saat aku telah memasuki kehidupan rumah tangga.
Adikku memberiku julukan "Jomblo Profesional". Aku sendiri sebenarnya juga tidak paham maksud dari istilah tersebut. Yang kuingat pada saat dia memberiku julukan itu adalah saat diriku tidak menunjukkan sikap galau sedikitpun terhadap lelaki.
Siapa bilang diriku tidak pernah jatuh cinta? Masih hangat dalam pikiranku bahwa aku pernah jatuh cinta dengan teman SD. Karena cinta yang dibilang masih cinta monyet itulah aku memutuskan untuk masuk pesantren. Di pesantren, ibu pengasuh melarang santri-santrinya berpacaran. Jika berpacaran, beliau menyampaikan kelak ilmunya tidak akan bermanfaat. Na'udzubillahi Min Dzalik.
Pada awalnya tujuanku tidak berpacaran adalah karena larangan dari pesantren. Namun, setelah keluar dari lingkungan pesantren sedikit demi sedikit aku memahami maksud larangan Ibu pengasuh tersebut.
Menjelang lulus kuliah, ada satu nama yang aku pikir pantas untuk menjadi imam dalam kehidupanku di dunia dan akhirat. Tidak tanggung-tanggung, orang tua ku pun berusaha keras untuk mengusahakannya. Hal tersebut dilakukan bukan tanpa alasan. Namun ternyata, diriku lah yang belum siap untuk masuk ke jenjang kehidupan selanjutnya, yakni berumah tangga. Keinginanku menikah hanyalah nafsu belaka, sedangkan hatiku sebenarnya belum siap seutuhnya untuk menjalani kehidupan selanjutnya. Pada saat itu aku memutuskan untuk menuruti kata hati.
Tidak bermaksud menunda, tetapi sebenarnya aku pun sedang memantaskan dan mempersiapkan diriku. Aku sadar bahwa masa singleku akan lebih sebentar daripada masa setelah meritku. Tentunya masa masa yang hanya sebentar itu tidak rela aku sia-siakan. Selagi Allah masih memberiku kesempatan untuk memanfaatkan masa single, mengapa aku harus buru-buru melepasnya?.
Jodoh telah diatur oleh-Nya. Bagi saya, jodoh itu banyak rupanya. Jodoh itu tidak hanya melulu pada pasangan hidup, tetapi juga tentang sekolah dan pekerjaan. Aku dulu benar-benar menginginkan kuliah di UI, tetapi Allah tak menjodohkan aku dengan UI. Allah malah menjodohkan aku dengan UGM. Kecewa? Sedih? Tentu!. Kampus yang kuimpi-impikan sampai aku rela menunggu selama 1 tahun ternyata tak berhasil kudapatkan. Kampus UGM yang tak pernah kuimpikan, malah Allah takdirkan aku kuliah disana. Namun, pada akhirnya aku sadar dan paham maksud Allah mentakdirkan itu semua. Kejadian itu telah menjadi pelajaran paling berharga dalam hidupku sampai saat ini.
Tentang pekerjaan, aku bercita cita bekerja di BUMN. Qoddarullah ternyata Allah jodohkan aku bekerja di Bank Sentral.
Dua pelajaran hidup tentang kuliah dan pekerjaan telah membuatku tidak terlalu khawatir tentang jodoh. Selagi kita bertekad untuk mengejarnya, insyaAllah Allah akan memberikan jalan untuk kita. Dan yang penting adalah punyailah keinginan/cita cita supaya jelas apa yang kita kejar. Demikian halnya dengan jodoh pasangan hidup, mau kita seperti apa itulah yang menjadi motivasi kita untuk terus memantaskan diri supaya pantas bersanding dengannya.
Apa yang kita pikirkan adalah bagian dari doa. Positif thinking sangatlah perlu untuk kedamaian hati kita. Mungkin saja Allah belum hadirkan dia dalam kehidupan kita karena dia sedang menyelesaikan urusannya, sama seperti kita yang sedang menyelesaikan urusan kita. Mungkin juga dia sedang memantaskan diri untuk bersanding dengan kita, sama seperti kita juga sedang memantaskan diri bersanding dengannya. Dan hal hal positif lain yang bisa kita hadirkan. Yakin saja pada Allah. Ayat Allah pun jelas kan dalam firman-Nya.
And the last,
Berkelanalah, manfaatkan kesempatanmu selebar lebarnya dan setelah itu kita manfaatkan kesempatan yang ada untuk bersama.
Terima kasih telah memberiku kesempatan untuk menyelesaikan urusanku di masa single. Aku yakin, belum bertemunya kita bukan karena kita saling menunda. Namun, karena Allah masih memberikan kesempatan kita untuk menikmati waktu untuk sendiri sebelum kita dijadikan bersama.
0 komentar:
Posting Komentar