Selasa, 04 Juni 2019

PADA AKHIRNYA ALLAH LAH YANG MENGISTIRAHATKAN BAPAK


Lebaran 1440 H terasa sangat berbeda tanpa kehadiran Bapak di tengah-tengah kami. Bapak yang dipanggil menghadap Allah awal Ramadhan 1440 H lalu masih menyisakan kenangan yang masih sulit pergi dari ingatan.

Bapak pergi di usia yang bisa dibilang cukup muda, yakni 50 tahun. Beliau meninggalkan Ibu, 4 orang anak, 1 menantu, dan 1 cucu laki-laki.

Sebagai seorang mukmin, kepergian Bapak merupakan sebuah taqdir yang harus diterima dengan ikhlas. Semua yang ada di dunia ini adalah milik Allah dan ketika Allah menginginkan yang dimiliki-Nya kembali, lantas manusia bisa berbuat apa? Subhanallah.

Tidak ada yang menyangka bahwa Bapak akan pergi secepat ini. Masih banyak sekali harapan harapan Bapak yang belum terwujud. Selama hidupnya Bapak telah menikahkan beberapa ratus pasangan pengantin, qoddarullah usia Bapak tidak menyampaikannya untuk menikahkan ketiga putrinya.

Di balik kesedihan yang kami rasakan, tentu ada banyak hal yang patut kami syukuri. Diantaranya adalah Bapak meninggal didahului dengan sakit sehingga kami sekeluarga bisa menyiapkan mental terlebih dahulu dari sebuah kemungkinan terburuk. Selain itu juga kami dapat semakin dekat dengan keluarga keluarga dan sahabat sahabat Bapak.

Bapak meninggal dalam keadaan saya dan Bapak telah menyelesaikan perdebatan tentang pekerjaan dan jodoh. Meski semuanya serba belum pasti minimal saya sudah mempunyai arah pijakan untuk melangkah yang tentunya telah direstui oleh Bapak sebelum beliau tiada.

Allah yang Maha Mengetahui segala yang terbaik untuk hambanya. Segala sesuatu yang menimpa seorang mukmin adalah baik. Jika dia diberi nikmat maka dia bersyukur, jika dia diberi ujian maka dia bersabar. Kami sekeluarga sampai dengan detik ini masih tetap berusaha untuk mengikhlaskan Bapak dan ridho atas taqdir Allah.

Bapak dikenal sebagai seseorang yang tidak punya rasa lelah, keras kepala, tidak mau tau penyakit yang dideritanya, serta tidak peduli dengan kondisi kesehatan. Namun begitulah Bapak kami. Dengan alasan tidak mau merepotkan istri dan anak-anaknya beliau paling pintar menutupi rasa sakit yang sebenarnya sudah lama beliau rasakan. Dan pada akhirnya Allah lah yang meminta Bapak untuk berisitirahat.

Pesan Bapak

Bapak bukanlah sosok yang mellow, tetapi Bapak cukup sensitif. Pesan-pesan Bapak yang selama ini kami terima merupakan pesan singkat yang mempunyai beribu makna. Saat kami hendak bepergian, Bapak berpesan untuk memperbanyak istighfar dan sholawat. Saat kami berangkat merantau untuk sekolah atau bekerja, Bapak selalu berucap Bismillahi tawakkaltu ‘alallah. Bapak jarang sekali menanyakan bagaimana perjalanan kami, sekarang sudah sampai mana atau pertanyaan pertanyaan lain seputar riwayat perjalanan kami. Saat kami hendak pergi meninggalkan rumah, selama kepergian kami diridhoi Bapak Ibu, disitulah letak keselamatan kami dan disitulah Bapak menyerahkan segalanya tentang kami pada pencipta-Nya. Bapak juga berpesan untuk senantiasa menjaga dedikasi dan amanah karena letak kehormatan seseorang ada pada bagaimana dia menjaga amanah.    

Sebagai anak, kami tidak akan pernah bisa membalas kebaikan orang tua. Yang dapat kami lakukan adalah mengupayakan diri untuk kelak dapat meningkatkan derajat orang tua di hadapan Allah.

Allah sayang Bapak, Allah merahmati Bapak, Allah meridhoi Bapak, insyaAllah. Kami sebagai anak berharap semoga Bapak husnul khotimah, diterima segala niat dan amal baiknya, serta ditempatkan di tempat terbaik di sisi-Nya. Dan juga semoga Bapak termasuk golongan orang-orang yang tidak sabar menanti datangnya kiamat karena kenikmatan surga telah Allah perlihatkan kepadamu. Allahumma Aamiiin.



0 komentar:

Posting Komentar