Lebaran 1440 H terasa sangat berbeda tanpa kehadiran
Bapak di tengah-tengah kami. Bapak yang dipanggil menghadap Allah awal Ramadhan
1440 H lalu masih menyisakan kenangan yang masih sulit pergi dari ingatan.
Bapak pergi di usia yang bisa dibilang cukup muda, yakni
50 tahun. Beliau meninggalkan Ibu, 4 orang anak, 1 menantu, dan 1 cucu
laki-laki.
Sebagai seorang mukmin, kepergian Bapak merupakan sebuah
taqdir yang harus diterima dengan ikhlas. Semua yang ada di dunia ini adalah
milik Allah dan ketika Allah menginginkan yang dimiliki-Nya kembali, lantas manusia
bisa berbuat apa? Subhanallah.
Tidak ada yang menyangka bahwa Bapak akan pergi secepat
ini. Masih banyak sekali harapan harapan Bapak yang belum terwujud. Selama
hidupnya Bapak telah menikahkan beberapa ratus pasangan pengantin, qoddarullah
usia Bapak tidak menyampaikannya untuk menikahkan ketiga putrinya.
Di balik kesedihan yang kami rasakan, tentu ada banyak
hal yang patut kami syukuri. Diantaranya adalah Bapak meninggal didahului dengan
sakit sehingga kami sekeluarga bisa menyiapkan mental terlebih dahulu dari
sebuah kemungkinan terburuk. Selain itu juga kami dapat semakin dekat dengan
keluarga keluarga dan sahabat sahabat Bapak.
Bapak meninggal dalam keadaan saya dan Bapak telah menyelesaikan
perdebatan tentang pekerjaan dan jodoh. Meski semuanya serba belum pasti
minimal saya sudah mempunyai arah pijakan untuk melangkah yang tentunya telah
direstui oleh Bapak sebelum beliau tiada.
Allah yang Maha Mengetahui segala yang terbaik untuk
hambanya. Segala sesuatu yang menimpa seorang mukmin adalah baik. Jika dia
diberi nikmat maka dia bersyukur, jika dia diberi ujian maka dia bersabar. Kami
sekeluarga sampai dengan detik ini masih tetap berusaha untuk mengikhlaskan
Bapak dan ridho atas taqdir Allah.
Bapak dikenal sebagai seseorang yang tidak punya rasa
lelah, keras kepala, tidak mau tau penyakit yang dideritanya, serta tidak peduli
dengan kondisi kesehatan. Namun begitulah Bapak kami. Dengan alasan tidak mau
merepotkan istri dan anak-anaknya beliau paling pintar menutupi rasa sakit yang
sebenarnya sudah lama beliau rasakan. Dan pada akhirnya Allah lah yang meminta
Bapak untuk berisitirahat.
Pesan Bapak
Bapak bukanlah sosok yang mellow, tetapi Bapak cukup
sensitif. Pesan-pesan Bapak yang selama ini kami terima merupakan pesan singkat
yang mempunyai beribu makna. Saat kami hendak bepergian, Bapak berpesan untuk
memperbanyak istighfar dan sholawat. Saat kami berangkat merantau untuk sekolah
atau bekerja, Bapak selalu berucap Bismillahi tawakkaltu ‘alallah. Bapak jarang
sekali menanyakan bagaimana perjalanan kami, sekarang sudah sampai mana atau
pertanyaan pertanyaan lain seputar riwayat perjalanan kami. Saat kami hendak
pergi meninggalkan rumah, selama kepergian kami diridhoi Bapak Ibu, disitulah
letak keselamatan kami dan disitulah Bapak menyerahkan segalanya tentang kami
pada pencipta-Nya. Bapak juga berpesan untuk senantiasa menjaga dedikasi dan amanah
karena letak kehormatan seseorang ada pada bagaimana dia menjaga amanah.
Sebagai anak, kami tidak akan pernah bisa membalas
kebaikan orang tua. Yang dapat kami lakukan adalah mengupayakan diri untuk
kelak dapat meningkatkan derajat orang tua di hadapan Allah.
Allah sayang Bapak, Allah merahmati Bapak, Allah meridhoi
Bapak, insyaAllah. Kami sebagai anak berharap semoga Bapak husnul khotimah,
diterima segala niat dan amal baiknya, serta ditempatkan di tempat terbaik di
sisi-Nya. Dan juga semoga Bapak termasuk golongan orang-orang yang tidak sabar
menanti datangnya kiamat karena kenikmatan surga telah Allah perlihatkan
kepadamu. Allahumma Aamiiin.
0 komentar:
Posting Komentar